Apa yang dimaksud dengan Keluarga Artifisial?

2 min read

Keluarga Artifisial

Apa yang dimaksud dengan Keluarga Artifisial? – Apakah makna memang berasal dari ‘keluarga’? Apakah keluarga merupakan ikatan yang hanya ditentukan oleh interaksi darah? Apakah makna keluarga hanya cuman status yang tercantum di dalam kartu keluarga? Bagaimana kecuali peran seorang bagian keluarga digantikan oleh kecerdasan artifisial? Pertanyaan-pertanyaan tersebut barangkali terkesan ganjil. Tetapi, pertanyaan-pertanyaan ini dapat senantiasa relevan bersama dengan orang yang terjebak di dalam disfungsional keluarga. Apalagi dikala mereka menjadi mempertanyakan makna berasal dari keluarga.

Bahkan, beberapa berasal dari kami barangkali dapat berimajinasi tentang bagaimana kecuali adik kami yang mengesalkan dapat kami ganti bersama dengan robot yang penurut. Atau, kami membayangkan bapak tukang mabuk perannya dapat diganti oleh robot pekerja keras. Imajinasi-imajinasi semacam itulah yang cobalah di tawarkan oleh Cicilia Oday lewat novel debutnya, Keluarga Lego.

Novel ini bercerita tentang wanita paruh baya bernama Yohana yang tinggal di panti jompo bernama ‘Tempat Peristirahatan Termulia’. Ia tinggal di panti jompo itu sebab keinginannya sendiri usai rumahnya kebakaran. Setelah sepuluh th. tinggal di sana, ia bersua bersama dengan penghuni baru bernama Naomi yang tinggal di tempat itu sebab terpaksa. Bahkan, selagi awal-awal tiba di panti, Naomi mengamuk. Namun, lama kelamaan Yohana dapat berteman bersama dengan Naomi.

‘Tempat Peristirahatan Termulia’ memang tak jauh berbeda bersama dengan panti jompo terhadap umumnya. Tempat itu bagai suaka bagi orang-orang kesepian dan menjadi dirinya kian dekat bersama dengan lahat. Kendati demikian, Yohana menikmatinya, apalagi dikala ia dapat berkawan bersama dengan Naomi.

Namun, semuanya beralih dikala Naomi diadopsi oleh keluarga barunya. Meskipun awalnya Yohana yang mendorong Naomi supaya meraih keluarga baru, tapi selanjutnya ia terjebak di dalam kesepian yang memuakkan di panti itu. Ia menjadi kehilangan Naomi. Hari-harinya hampa.

Situasinya menjadi semakin hampa dikala menantunya tak menjenguknya lagi. Hubungan Yohana dan menantunya memang rumit. Yohana kerap mengomeli menantunya itu. Walaupun kadang waktu Yohana bangga sebab masih menjadi miliki keluarga yang dapat memberi afeksi. Tetapi sekali lagi, interaksi mereka rumit. Kompleks sekali. Sukar untuk didamaikan.

Kehampaan Yohana menjadi meraih cahayanya dikala ia bersua bersama dengan perempuan paruh baya yang kenakan bros lego. Belakangan, Yohana tahu, perempuan itu robot. Ia robot milik perusahaan jasa persewaan keluarga bernama Keluarga Lego.

Keluarga Lego tawarkan solusi menarik bagi mereka yang menjadi tidak meraih keluarga idealnya hanya lewat aplikasi yang tersedia di GooglePlay. Keluarga Lego menambahkan opsi kepada Yohana untuk menciptakan keluarganya sendiri. Sesuatu yang tak ia dapatkan sepanjang ini. Namun, apakah Yohana dapat meraih kebahagiaan lewat keluarga artifisial tersebut?Membaca novel ini, pembaca diajak untuk mengenal seluk beluk masalah para lansia yang bergulat bersama dengan egonya. Saat membaca bagian-bagian awal novel ini, pembaca dapat langsung dapat menduga Yohana adalah tokoh yang memiliki masalah sejak awal. Dan memang, di akhir cerita, sejumlah pertanyaan soal Yohana dapat terjawab.

Pembaca secara tak langsung juga dapat diberi pilihan untuk berempati kepada Yohana. Tetapi di segi lain, pembaca dapat dibuat sebal bersama dengan sikap egois Yohana.

Sayangnya, Cicilia Oday tak menambahkan ruang yang setara kepada suara-suara tokoh lain. Novel ini kelihatan seperti buku otobiografi atau memoar yang ditulis oleh Yohana bersama dengan sudut pandang orang lain. Ceritanya seolah terjebak di dalam labirin asumsi Yohana.

Selain itu, premis cerita novel ini tidak cukup dapat dielaborasi-digali bersama dengan cukup matang. Padahal, premis cerita tentang ‘memilih keluarga sendiri’ ini merupakan topik yang menarik. Bahkan belakangan cerita-cerita keluarga disfungsional kerap menjadi cerita viral di Twitter. Sayangnya sekali lagi, ini tidak digali bersama dengan baik.

Lalu berkenaan jenis bertutur. Sebenarnya, langkah bercerita Cicilia cukup beres. Ceritanya minim berasal dari kesalahan-kesalahan minor penulis baru. Tetapi, langkah bertutur novel ini tidak menghadirkan suasana intens yang menyebabkan pembaca masuk ke di dalam semesta cerita.

Kendati demikian, Cicilia senantiasa menghadirkan cerita yang bagus. Plottwist yang disiapkan di akhir boleh dibilang menyelamatkan kedodoran cerita di sana-sini. Cerita Keluarga Lego juga mengingatkan bahwa memaafkan era selanjutnya adalah langkah untuk mencintai diri sendiri.

Baca Juga : Kabar KPK Geledah Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa Korupsi ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *